BeritaBisnisLifestyleNasional

Cerita Dokter Rosa dari Balik Kemudi GrabCar: Bantu Persalinan Darurat Saat Antar Penumpang

SURABAYA,harianjatim- Dokter Rosa memulai on-bid, istilah para mitra pengemudi untuk mulai menarik penumpang, setelah seharian menyelesaikan peran-peran lain dalam hidupnya. Perempuan asal Kediri itu baru bisa on-bid setelah magrib. Pagi hingga sore diisi dengan urusan utama: pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan rumah tangga. Tak ada yang istimewa malam itu, sampai sebuah perjalanan dari Tambaksari menuju Asemrowo mengubah semuanya.

Sekitar pukul 20.30 WIB, Rosa menjemput seorang perempuan hamil bersama ibunya, serta anaknya yang masih berusia 1 tahun. Dari perawakannya, Rosa mengira kehamilan perempuan tersebut masih trimester kedua. Tubuhnya kecil, tak tampak seperti hamil tua. Perjalanan dimulai seperti perjalanan lain, obrolan ringan khas penumpang dan pengemudi di tengah lalu lintas Surabaya yang lembab oleh hujan. Mereka bahkan memanggil dr Rosa dengan Nonik.

Di tengah perjalanan, penumpang ibu hamil yang awalnya berbincang, mulai diam. Setelah mobil sudah sampai di depan gang alamat tujuan, penumpang itu bilang, “Nonik, rasanya aku mau melahirkan.” Sontak Rosa kaget. “Lho seng nggenah ta? (Lho yang bener?),” jawabnya spontan. Rosa yang awalnya tidak memberitahu kalau dia seorang dokter, akhirnya memberi tahu penumpang tersebut dan memeriksa kondisinya, agar ia merasa tenang. Rupanya penumpang ibu hamil itu sudah mengalami kontraksi dan tak lama kemudian air ketubannya pecah. Di titik itulah Rosa sadar: ini bukan lagi sekadar perjalanan GrabCar. Ini adalah persalinan darurat.

Ketika memeriksa kondisi sang ibu hamil, rupanya sudah tahap crowning, kepala bayi sudah terlihat, menandakan bayi akan segera lahir. Rosa meminta bantuan orang yang ada di sekitar gang tersebut untuk minta tolong dipanggilkan bidan. Namun bidan terdekat jaraknya 1 km,tidak akan cukup waktunya. “Dengan penuh doa, saya bantu persalinan spontan itu.

Prosesnya cepat, nggak sampai 10 menit bayinya keluar,” ungkapnya. Di bantu oleh warga sekitar, Rosa menangani ibu dan juga bayinya setelah lahir. Tangis bayi itu terdengar nyaring. Setelah membungkus bayi tersebut dengan kain dari warga, Rosa segera membawa mereka ke Klinik Bidan Alfiyah. Di sana, ibu dan bayi laki-laki itu ditangani lebih lanjut. Keduanya selamat dan sehat.

Fleksibilitas Grab, Ruang Hidup bagi Banyak Peran

Rosa bukan pengemudi taksi online biasa. Ia adalah seorang dokter ASN (Aparatur Sipil Negara) di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Doris Sylvanus, Kalimantan Tengah, yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Surabaya, yang secara normal ditempuh selama 4,5 tahun. Masuk sejak awal 2021, seharusnya Rosa menyelesaikan pendidikan pada pertengahan 2025. Namun dinamika kehidupan membuat sebagian rencana harus bergeser. “Tinggal menyelesaikan penelitian,” ucapnya.

Kondisi ini membuat Rosa tidak lagi memiliki kewajiban rutin hadir setiap pagi di rumah sakit, kecuali ketika ia diminta menggantikan junior yang sedang ujian atau saat terjadi kekosongan tenaga pengawas. Di luar momen-momen itu, waktunya menjadi lebih fleksibel. Di ruang jeda inilah Rosa kemudian memilih menjadi Mitra Pengemudi GrabCar untuk memanfaatkan waktu luang agar tetap produktif, menambah penghasilan, sekaligus menjaga keseimbangan hidup di tengah perjuangannya menyelesaikan pendidikan kedokteran di luar kota.

Menanggapi peristiwa ini, Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia, menyampaikan apresiasinya. “Peristiwa di Surabaya, di mana seorang Mitra Pengemudi GrabCar, Dokter Rosa, yang dengan sigap membantu penumpang yang mengalami persalinan darurat, merupakan gambaran nyata nilai kemanusiaan, kepedulian, dan profesionalisme yang hidup dalam ekosistem Grab. Fakta bahwa Mitra kami tersebut juga merupakan seorang tenaga medis menunjukkan bagaimana fleksibilitas yang ditawarkan Grab memungkinkan individu dengan latar belakang dan keahlian beragam untuk memberi dampak positif bagi keluarganya dan masyarakat, bahkan di situasi yang tidak terduga,” tuturnya.

Lebih lanjut, Neneng menambahkan, “Fleksibilitas bukan hanya soal mengatur waktu, tetapi tentang membuka ruang agar Mitra dapat menjalankan peran hidupnya secara utuh, baik sebagai profesional, sebagai anggota keluarga, maupun bagian dari komunitas. Kami sangat mengapresiasi tindakan cepat dan penuh empati yang dilakukan Dokter Rosa. Grab akan terus berkomitmen menghadirkan ekosistem yang aman, suportif, serta mendorong Mitra untuk selalu mengutamakan keselamatan dan nilai kemanusiaan dalam setiap perjalanan.”

Rosa bergabung menjadi driver GrabCar sejak Oktober tahun lalu untuk menambah pendapatan di sela pendidikannya sebagai dokter spesialis. Dengan jadwal yang tak menentu dan tanggung jawab keluarga, fleksibilitas menjadi kunci. “Grab memberi saya ruang untuk bekerja saat saya bisa,” ujarnya. Kadang malam, kadang hanya beberapa jam. Pendapatan dari on-bid ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, belanja dapur, biaya kecil rumah tangga,dan keperluan jajan anak-anak.

Rosa bukan satu-satunya. Di balik kemudi GrabCar dan GrabBike, ada beragam latar belakang: mahasiswa, orang tua, pekerja profesional, hingga tenaga kesehatan. Grab memberi peluang pendapatan bagi siapa saja, tanpa mengikat, tanpa menghapus identitas utama mereka. Bagi Rosa sendiri, pengalaman malam itu bukan tentang kepahlawanan. Ia menolak label heroik. “Saya justru merasa bersyukur masih bisa berguna untuk orang lain,” katanya pelan.

Malam hujan di Surabaya itu telah berlalu. Namun kisah tentang seorang dokter, seorang ibu, dan seorang pengemudi GrabCar yang dipertemukan oleh satu perjalanan akan terus hidup sebagai pengingat bahwa di jalanan kota, kemanusiaan kadang hadir dalam bentuk yang paling tak terduga.(ino)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button