BeritaNasionalPolitik

Ribka Tjiptaning Ungkap Momen Dramatis Dibalik Peristiwa Kudatuli Tanpa Bius

JAKARTA, harianjatim.net – Ketua DPP PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning mengungkapkan berbagai momen dramatis yang dialaminya saat menangani korban Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli.

​Ribka mengatakan, saat itu ia adalah seorang dokter sekaligus Ketua DPC PDI Kota Tangerang.

​Ribka mendapat tugas langsung dari Megawati Soekarnoputri untuk menjaga kesehatan para peserta Mimbar Demokrasi yang bertahan di kantor PDI.

​”Saya diperintah Ibu Mega untuk menjaga kesehatan teman-teman yang berada di Mimbar Demokrasi,” kata Ribka di Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, Senin.

​Hal tersebut disampaikan Ribka di sela peringatan 30 tahun Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin.

​Salah satu momen yang diceritakan Ribka adalah dirinya terpaksa harus menjahit korban luka tanpa obat bius karena keterbatasan fasilitas.

​Ribka mengenang, suasana semakin tegang setelah aksi massa dari Gambir dibubarkan.

​Dukungan masyarakat terus berdatangan, termasuk bantuan makanan dan obat-obatan dari berbagai pihak yang tidak ingin disebutkan identitasnya.

​Pada malam sebelum penyerbuan, Megawati disebut sempat berencana datang ke kantor partai.

​Namun rencana itu batal.

​Keesokan paginya, Ribka menerima kabar bahwa kantor PDI telah diserang.

​Saat hendak menuju lokasi, Ribka ditarik rekan-rekannya menuju kantor LBH Jakarta karena di tempat itu sudah banyak korban yang membutuhkan pertolongan.

​Klinik tempatnya bertugas juga sudah tidak bisa digunakan.

​Dalam kondisi darurat, Ribka meminta seorang aktivis mengambil alat jahit luka dari Ciledug.

​Namun karena tidak memahami perlengkapan medis, aktivis tersebut membawa benang jahit pakaian.

​”Akhirnya kami memakai benang jahit baju karena benang medis tidak ada,” katanya.

​Ribka mengaku menjahit sejumlah korban tanpa anestesi.

​Bahkan, seorang korban yang mengalami patah pada jari kelingking harus menjalani amputasi tanpa obat bius.

​”Saya bilang kalau sakit bilang ‘Merdeka, Hidup Mega’,” kenangnya, disambut tawa hadirin.

​Meski dilakukan dalam kondisi serba terbatas, Ribka menyebut luka-luka para korban justru sembuh dengan baik tanpa infeksi.

​Pengalaman itu, menurut Ribka, menjadi salah satu momen paling berkesan seJAKARTA, Senin, 27 Juli 2026 harianjatim.net – Ketua DPP PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning mengungkapkan berbagai momen dramatis yang dialaminya saat menangani korban Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli.​Ribka mengatakan, saat itu ia adalah seorang dokter sekaligus Ketua DPC PDI Kota Tangerang.​Ribka mendapat tugas langsung dari Megawati Soekarnoputri untuk menjaga kesehatan para peserta Mimbar Demokrasi yang bertahan di kantor PDI.​”Saya diperintah Ibu Mega untuk menjaga kesehatan teman-teman yang berada di Mimbar Demokrasi,” kata Ribka di Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, Senin.​Hal tersebut disampaikan Ribka di sela peringatan 30 tahun Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin.​Salah satu momen yang diceritakan Ribka adalah dirinya terpaksa harus menjahit korban luka tanpa obat bius karena keterbatasan fasilitas.​Ribka mengenang, suasana semakin tegang setelah aksi massa dari Gambir dibubarkan.​Dukungan masyarakat terus berdatangan, termasuk bantuan makanan dan obat-obatan dari berbagai pihak yang tidak ingin disebutkan identitasnya.​Pada malam sebelum penyerbuan, Megawati disebut sempat berencana datang ke kantor partai.​Namun rencana itu batal.​Keesokan paginya, Ribka menerima kabar bahwa kantor PDI telah diserang.​Saat hendak menuju lokasi, Ribka ditarik rekan-rekannya menuju kantor LBH Jakarta karena di tempat itu sudah banyak korban yang membutuhkan pertolongan.​Klinik tempatnya bertugas juga sudah tidak bisa digunakan.​Dalam kondisi darurat, Ribka meminta seorang aktivis mengambil alat jahit luka dari Ciledug.​Namun karena tidak memahami perlengkapan medis, aktivis tersebut membawa benang jahit pakaian.​”Akhirnya kami memakai benang jahit baju karena benang medis tidak ada,” katanya.​Ribka mengaku menjahit sejumlah korban tanpa anestesi.​Bahkan, seorang korban yang mengalami patah pada jari kelingking harus menjalani amputasi tanpa obat bius.​”Saya bilang kalau sakit bilang ‘Merdeka, Hidup Mega’,” kenangnya, disambut tawa hadirin.​Meski dilakukan dalam kondisi serba terbatas, Ribka menyebut luka-luka para korban justru sembuh dengan baik tanpa infeksi.​Pengalaman itu, menurut Ribka, menjadi salah satu momen paling berkesan sepanjang kariernya sebagai dokter.​Ribka menegaskan, peristiwa Kudatuli tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menjadi simbol perjuangan demokrasi yang dibayar mahal oleh para aktivis dan masyarakat yang mempertahankan suara politiknya.​(wa/an)

panjang kariernya sebagai dokter.

​Ribka menegaskan, peristiwa Kudatuli tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menjadi simbol perjuangan demokrasi yang dibayar mahal oleh para aktivis dan masyarakat yang mempertahankan suara politiknya.​(wa/an)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button