Berita

Sepinya DTC Surabaya Viral di Media Sosial, Pedagang Harap Lonjakan Jelang Lebaran

SURABAYA,Harianjatim.net — Suasana Ramadan yang biasanya identik dengan meningkatnya aktivitas belanja justru terasa berbeda di Darmo Trade Center (DTC) Surabaya tahun ini. Sejumlah pedagang busana mengeluhkan turunnya jumlah pengunjung secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pantauan di lokasi pada pekan kedua Ramadan menunjukkan lorong-lorong pusat perbelanjaan tersebut tampak lengang, terutama pada siang hingga sore hari. Beberapa toko pakaian yang biasanya ramai pembeli terlihat sepi, bahkan ada yang tidak didatangi pelanggan dalam kurun waktu tertentu.

Salah satu pemilik toko busana muslim, Siti Fatimah (45), mengaku omzet penjualannya turun hingga 40 persen dibandingkan Ramadan lima tahun lalu. “Dulu menjelang Lebaran seperti ini sudah ramai. Sekarang pembeli jauh berkurang. Kadang sehari tidak sampai sepuluh orang yang masuk toko,” ujarnya.

Viral di media sosial, sepinya pengunjung DTC turut menjadi perbincangan warganet dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah unggahan video yang memperlihatkan kondisi lorong pusat perbelanjaan yang lengang beredar luas dan memicu beragam komentar, mulai dari rasa prihatin hingga perbandingan dengan kondisi mall-mall besar di Surabaya yang tetap ramai selama Ramadan.

Menurut para pedagang, perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu penyebab utama. Masyarakat kini lebih memilih berbelanja secara daring melalui berbagai platform e-commerce yang menawarkan kemudahan transaksi, potongan harga, serta layanan pengiriman langsung ke rumah.

Selain itu, sebagian konsumen juga beralih ke pusat perbelanjaan modern yang dinilai lebih nyaman dan menawarkan konsep belanja sekaligus hiburan. Faktor fasilitas pendingin ruangan yang lebih baik, area parkir luas, serta kehadiran tenant-tenant merek ternama menjadi daya tarik tersendiri.

Merespons perubahan perilaku belanja tersebut, para pedagang di DTC mulai beradaptasi dengan mengikuti tren pasar. Sebagian di antaranya membuka toko daring di marketplace, memanfaatkan promosi melalui media sosial, hingga memberikan potongan harga khusus Ramadan untuk menarik kembali minat pembeli. Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga perputaran usaha di tengah pergeseran pola konsumsi masyarakat.

Sementara itu, Aan Sugiharto, dosen sosiologi dari Universitas Muhammadiyah Malang, menilai fenomena ini tidak semata-mata persoalan daya beli, tetapi juga perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Menurutnya, belanja kini bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari pengalaman sosial. “Masyarakat cenderung memilih tempat yang menawarkan kenyamanan, hiburan, dan citra modern. Di sisi lain, kemudahan teknologi membuat belanja online semakin diminati,” ujarnya.

Menjelang Idulfitri, para pedagang di DTC berharap situasi akan membaik. Mereka menggantungkan harapan pada lonjakan belanja di hari-hari terakhir Ramadan, yang selama ini menjadi momen puncak penjualan.

“Biasanya H-7 sampai H-3 Lebaran ada peningkatan. Kami masih berharap pembeli datang,” tutur Siti Fatimah penuh harap.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button