Hari Anak Di Mojokerto, Pemkot Galakkan Permainan Tradisional Hindarkan Ketergantungan Anak Pada Gadget

Mojokerto, harianjatim.net – Pemkot Mojokerto menjadikan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 sebagai ajang kembali ke era lama. Anak-anak dikenalkan pada permainan tradisional demi mengurangi ketergantungan terhadap gawai (gadget) dan permainan daring (games online).
Gerakan ini dikemas pada sosialisasi Permainan Tradisional yang digelar oleh Bunda PAUD Bersama Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kecamatan Prajuritkulon di Taman Bahari Majapahit, Kamis (6/8/2026).
“Kita sedang memperkuat ketahanan sosial-budaya masyarakat. Permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi sarana belajar yang menanamkan nilai gotong royong, kejujuran, sportivitas, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama,” kata Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Sumber Daya Manusia Kota Mojokerto, Moch. Misbah.
Ia melihat penggunaan gawai yang berlebihan berpotensi mengurangi aktivitas fisik, interaksi sosial, sekaligus menjauhkan anak dari budaya lokal yang menjadi identitas bangsa.
Ia menegaskan bahwa karakter-karakter tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang tangguh menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
“Anak-anak perlu memiliki ruang untuk bermain, berinteraksi, dan belajar bersama teman-temannya. Melalui permainan tradisional, mereka belajar menghargai aturan, menyelesaikan masalah, bekerja sama, serta membangun komunikasi yang baik. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal sosial bagi masa depan mereka,” lanjutnya.
Misbah juga mengajak para orang tua, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menghidupkan kembali permainan tradisional dalam kehidupan sehari-hari.
“Pelestarian permainan tradisional tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana permainan ini menjadi bagian dari keseharian anak, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah. Dengan demikian, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membangun generasi yang sehat, bahagia, dan berkarakter,” pesannya.
Dalam festival tersebut, para peserta diajak memainkan lima permainan tradisional khas Jawa, yaitu Kopral Sandal, Jamuran, Sluku-Sluku Batok, Cublak-Cublak Suweng, serta Gong-Gong Bolong (Ogong-Ogong Bolong). Suasana penuh keceriaan tampak mewarnai setiap permainan. Anak-anak terlihat aktif bergerak, saling berinteraksi, dan belajar bekerja sama dalam suasana yang menyenangkan. (Ud)








