
Surabaya,harianjatim.net – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mendorong kerja sama dengan Pakistan dalam pengembangan tembakau Virginia untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri rokok sekaligus melakukan transfer teknologi guna meningkatkan kemampuan petani lokal dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan peluang perdagangan tembakau dengan Pakistan perlu dimanfaatkan untuk memperkuat budi daya lokal melalui transfer teknologi, pengembangan bibit, dan pendampingan petani agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan impor.
“Boleh-boleh saja mereka masuk ke sini. Namun, kami berharap ada tukar teknologi. Jadi, tidak hanya membawa tembakau dari negara tertentu, tetapi juga ada kerja sama budi daya, pengembangan bibit, dan teknologinya,” katanya di Surabaya, Jumat.
Jawa Timur memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas tembakau karena produksi pada 2025 mencapai 148,77 ribu ton atau 46,22 persen dari total produksi nasional sebesar 321,90 ribu ton berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Di sisi lain, besarnya produksi tersebut belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri hasil tembakau terhadap jenis tertentu terutama tembakau Virginia sehingga kerja sama dengan negara pemasok seperti Pakistan, Brasil, dan Zimbabwe dapat diarahkan untuk memperkuat kemampuan produksi petani dalam negeri.
Menurut Adik, pengembangan varietas Virginia yang sesuai dengan kondisi agroklimat Indonesia menjadi salah satu langkah penting agar petani lokal memiliki peluang memasok kebutuhan industri, memperluas pasar, dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari rantai usaha tembakau.
“Ini bisa menjadi bahan kajian bagi kampus yang memiliki basis pertanian, balai penelitian, maupun lembaga riset lainnya. Bagaimana menghasilkan tembakau Virginia yang benar-benar bisa dibudidayakan di Indonesia,” ujar Adik.
Adik menambahkan, penguasaan teknologi budi daya dan penyediaan bibit yang sesuai dapat membuka peluang peningkatan produktivitas serta kualitas hasil panen, sehingga petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga bagian dari penguatan industri berbasis komoditas lokal.
Oleh sebab itu, Adik mengatakan Kadin saat ini sedang menjajaki kerja sama dengan salah satu negara yang mencakup pengembangan budi daya, penyediaan bibit, transfer teknologi, hingga peluang pembangunan pabrik di Jawa Timur.
Upaya itu diharapkan mampu memperluas investasi dan menciptakan nilai tambah di daerah.
Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) Kementerian Perindustrian hingga akhir 2024, Jawa Timur memiliki 1.352 unit industri hasil tembakau yang berpotensi menjadi pasar bagi hasil produksi petani sekaligus penggerak pengembangan kemitraan antara sektor pertanian dan industri pengolahan.
Sementara itu, Chief Executive Officer Nsyniyaz Tobacco Company Shaheer Kham mengatakan perusahaannya telah menjalin komunikasi bisnis dengan Indonesia selama sekitar dua tahun dan berupaya memperluas hubungan dengan calon pembeli di industri tembakau nasional.
Shaheer menilai Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan bagi tembakau Pakistan meskipun persaingan harga dengan pemasok dari negara lain termasuk India dan Bangladesh, masih menjadi tantangan dalam memperluas penetrasi pasar.
(wa/an)








