
Sampang , harianjatim.net- Pemerintah Kabupaten Sampang, Jawa Timur menggerakkan sebanyak 3.126 kader posyandu untuk membantu edukasi tentang pola hidup sehat kepada masyarakat dan menekan kasus stunting di wilayah itu.
”Ke 3.126 kader posyandu yang kami gerakkan ini merupakan keder terlatih dan kompeten dalam bidang layanan kesehatan dasar, karena mereka telah mendapatkan pembinaan khusus dari petugas medis puskesmas yang ada di Kabupaten Sampang ini,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Sampang Dwi Herlinda Lusi Harini di Sampang, Kamis.
Ia menjelaskan, jumlah total kader posyandu yang tersebar di 180 desa/kelurahan di 14 kecamatan se-Kabupaten Sampang sebenarnya sebanyak 4.391 orang.
Hanya saja, dari jumlah itu, kader terlatih yang telah mendapatkan pembinaan khusus baru sebanyak 3.126 orang.
Sedangkan, sambung dia, sebanyak 1.265 kader lainnya, belum mendapatkan pelatihan khusus, sehingga kader yang mendapatkan tugas khusus untuk memberikan bimbingan pola hidup sehat kepada masyarakat untuk mencegah stuting adalah kader terlatih.
”Saat ini,kami di Dinkes-KB Sampang masih fokus untuk memberikan pelatihan kepada 1.265 kader ini, sehingga upaya untuk mencegah stuting bisa lebih masif,” kata Herlina.
Plt Kepala Dinkes-KB Herlina lebih lanjut menjelaskan, upaya mencegah kasus stunting di Kabupaten Sampang perlu dilakukan secara masif, karena jumlah penderita kasus ini masih tinggi.
Ia menuturkan, pada 2023, prevalensi kasus stunting di kabupaten Sampang terdata 11,2 persen, pada 2024, meningkat menjadi 18,3 persen dan pada 2025, meningkat lagi menjadi 18,5 persen.
Berbagai upaya telah dilakukan Dinkes-KB Kabupaten Sampang untuk menekan kasus ini.
Di antaranya dengan memberikan makanan bergizi tambahan kepada ibu hamil dan menyusui.
”Tapi ternyata, program pemberian makanan tambahan ini tidak cukup. Butuh pendampingan dan pendidikan langsung kepada masyarakat. Karena berdasarkan data yang kami temukan, penyebab stunting yang terjadi di Sampang bukan karena faktor kemiskinan semata, akan tetapi juga karena faktor pengetahuan,” katanya.
Menurut Herlinda, banyak warga yang tidak mengerti tentang asupan gizi yang bagus bagi ibu hamil dan menyusui.
”Atas dasar itu, maka kami bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Sampang untuk menggerakkan kader Posyandu, untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat tentang asupan gizi seimbang yang dibutuhkan oleh ibu hamil dan menyusui,” katanya.
Gerakan terpadu yang melibatkan para kader posyandu terlatih ini, secara simbolis dimulai dengan kegiatan jambore kader Posyandu se-Kabupaten Sampang pada pertengahan September 2026.
Selain itu, kerja sama dengan institusi yang memiliki jaringan hingga di tingkat desa dipandang perlu untuk dilakukan, seperti TNI dan Polri.
”Melalui gerakan terpadu ini, kami harap prevalensi stunting di Sampang bisa menurun,” kata Herlinda.
( wa/an)








