
Surabaya,harianjatim.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya menekan angka pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dengan gencar memasang portal dan kamera pengawas (CCTV) di berbagai wilayah. Langkah ini merupakan bagian dari strategi komprehensif untuk meningkatkan keamanan masyarakat.
Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Achmad Zaini, menjelaskan bahwa pemasangan portal di perkampungan masih menghadapi pro-kontra di masyarakat. “Ini butuh koordinasi dengan kepolisian. Tidak mudah mengkomunikasikan ke masyarakat karena pasti ada pro-kontra,” ujarnya saat Forum Group Discussion (FGD) “Wawasan Series: Curanmor Meresahkan, Aksi Kita Menentukan” di Hall Suara Surabaya, Rabu (4/6).
Zaini menambahkan, Satpol PP telah melakukan pemetaan area rawan curanmor seperti tempat kos, warung, dan parkiran sekolah. Ke depan, Pemkot Surabaya akan mengusulkan penjagaan di kantong-kantong parkir agar lebih aman. “Termasuk di kos-kosan, tempat penitipan parkir, ini akan kami tertibkan bekerja sama dengan polisi. Wilayah rawan menjadi fokus pencegahan kami, termasuk pengawasan di parkiran sekolah,” jelasnya.
Senada dengan Zaini, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Tambaksari Surabaya, Sutowo, mengungkapkan bahwa program pemasangan portal dan CCTV yang terintegrasi dengan gapura serta area perkampungan sudah mulai berjalan. “Program Pak Wali Kota itu pemasangan CCTV yang masuk ke dalam gapura dan masuk ke perkampungan itu sudah mulai jalan, serta pemasangan portal juga,” katanya.
Sutowo menekankan pentingnya masifikasi kedua program ini di setiap kampung, mengingat para pelaku kejahatan semakin cerdik mencari celah. “Meskipun sudah dilakukan pemasangan portal dan diberlakukan jam operasional penutupan portal, pelaku masih bisa beraksi di siang hari saat situasi sepi,” imbuhnya. Oleh karena itu, pemasangan CCTV di dalam jalan perkampungan menjadi komponen krusial untuk mengawasi potensi kejahatan, terutama saat portal dibuka di siang hari.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebanyak 529 sepeda motor dilaporkan hilang selama periode Maret hingga Mei 2025 di wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Modus pencuriannya bervariasi, mulai dari dibawa kabur oleh orang yang baru dikenal, diminta paksa, hingga kelalaian pemilik yang lupa mencabut kunci motor.( wan/an)








