BeritaBisnisDaerahPolitik

Tembus Pasar Kerja Internasional, Lulusan Vokasi Jatim Tekan Angka Pengangguran

Surabaya, harianjatim.net – Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Timur pada Sabtu, Februari 2026 turun menjadi 3,55 persen.

Angka ini lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sekaligus di bawah rata-rata nasional sebesar 4,68 persen, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

“Alhamdulillah, pengangguran di Jawa Timur semakin terkendali,” ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Sabtu.

“Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus bergerak positif dan mampu menyerap tenaga kerja secara lebih luas,” kata Khofifah Indar Parawansa menambahkan.

Data BPS Provinsi Jawa Timur menunjukkan angka pengangguran di wilayah itu terus menurun dalam lima tahun terakhir, dari 5,17 persen pada Februari 2021 menjadi 3,55 persen pada Februari 2026.

Khofifah Indar Parawansa mengatakan penurunan TPT tidak lepas dari berbagai intervensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Intervensi tersebut antara lain penguatan keterkaitan dan kesesuaian (link and match) pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja, termasuk pembukaan akses kerja ke luar negeri.

Menurut Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur saat ini menjadi provinsi dengan peserta magang kerja dan pekerja migran terbanyak di Indonesia.

Pada Sabtu di tahun 2026, sebanyak 4.920 peserta dari 112 sekolah menengah kejuruan (SMK) dan lembaga kursus dan pelatihan (LKP) mengikuti program magang dan peluang kerja luar negeri.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.617 peserta telah lolos seleksi dan memperoleh perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

“Ini menunjukkan lulusan SMK dan LKP Jawa Timur semakin kompetitif dan mendapat kepercayaan di pasar kerja internasional,” katanya.

Selain TPT, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di Jawa Timur juga meningkat menjadi 74,78 persen atau naik 0,53 persen poin dibandingkan Februari 2025.

Jumlah angkatan kerja di Jawa Timur tercatat mencapai 25,14 juta orang dengan jumlah penduduk bekerja sebesar 24,25 juta orang atau meningkat sekitar 388,04 ribu orang dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi sebesar 31,76 persen terhadap total penduduk bekerja di Jawa Timur.

Meski demikian, Khofifah Indar Parawansa menilai struktur pasar kerja di Jawa Timur masih menghadapi tantangan, terutama dominasi pekerja di sektor informal.

“Persentase pekerja formal di Jawa Timur saat ini baru mencapai 35,56 persen, sedangkan pekerja informal masih mendominasi sebesar 64,44 persen,” katanya.

“Ini menjadi tantangan kita bersama untuk mendorong transformasi menuju pekerjaan yang lebih formal, produktif, dan berkelanjutan,” ucap Khofifah Indar Parawansa.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan terus mendorong pengembangan industri padat karya modern, penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan pendidikan dan pelatihan vokasi.

“Transformasi ketenagakerjaan harus dilakukan secara komprehensif,” kata Khofifah Indar Parawansa.

“Tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memastikan kualitas, perlindungan, dan keberlanjutannya,” tutur Khofifah Indar Parawansa.(wa/an)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button