BeritaLifestyleNasional

Fadli Zon Dorong Aksara Kawi Masuk UNESCO dan Perkuat Ekosistem Digital

JAKARTA, harianjatim.net — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat pelestarian Aksara Kawi, termasuk melalui pengembangan ekosistem digital dan pengusulannya ke UNESCO.

“Kami mengapresiasi segala bentuk upaya pemajuan kebudayaan, apalagi yang berkaitan dengan bahasa dan aksara sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan,” kata Fadli Zon saat menerima kunjungan La Nyalla Mahmud Mattalitti bersama pegiat Aksara Kawi dari Yayasan Satria Lelaku Nusantara di Jakarta, Selasa (30/6), dilansir dari siaran resmi Kementerian Kebudayaan yang diterima pada Rabu.

Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan saat ini tengah mendorong pengusulan aksara ke UNESCO. Menurut Fadli, Aksara Kawi memiliki peluang diajukan melalui skema joint nomination karena jejak penggunaannya juga ditemukan di Filipina, Thailand Selatan, dan Kamboja Selatan.

Selain itu, kata Fadli, pengusulan melalui skema urgent safeguarding juga dapat menjadi alternatif mengingat keberlangsungan Aksara Kawi perlu terus dijaga.

Fadli juga mengusulkan penyusunan ensiklopedia aksara Nusantara sebagai upaya memperkuat dokumentasi dan pemajuan berbagai aksara yang berkembang di Indonesia.

Kementerian Kebudayaan, lanjut Fadli, turut mendukung penyelenggaraan Kongres Aksara Kawi pada 2027 sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat pelestarian dan pengembangan aksara tersebut.

Dalam pertemuan itu, Pembina Yayasan Satria Lelaku Nusantara La Nyalla Mahmud Mattalitti menyampaikan rencana pembangunan Portal Aksara Kawi sebagai ruang bersama yang menghubungkan berbagai komunitas dan memperluas pelestarian aksara di era digital.

“Kami akan membangun Portal Aksara Kawi sebagai ruang bersama untuk menghimpun komunitas, memperluas kolaborasi, dan memperkuat upaya pelestarian Aksara Kawi,” ujar La Nyalla.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Portal Aksara Kawi Rachmad Setiawan mengatakan portal tersebut dirancang sebagai pusat informasi sekaligus simpul kolaborasi bagi komunitas, akademisi, pegiat, pemerintah, dan industri budaya.

Menurut Rachmad, portal itu juga diharapkan dapat mendorong pengembangan UMKM berbasis Aksara Kawi, memperkuat kajian manuskrip, mendukung kaderisasi pegiat, serta menjadi bagian dari ekosistem digital pelestarian budaya.(wa/an)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button