BeritaDaerahLifestyle

DKPP Kota Madiun Lakukan Mitigasi Musim Kemarau untuk Antisipasi Gagal Panen

Madiun, harianjatim.net — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun, Jawa Timur, memperkuat upaya mitigasi musim kemarau guna mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian hingga memicu gagal panen di Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu, 4 Juli 2026.

“Mengantisipasi musim kemarau tahun ini, DKPP Kota Madiun memperkuat berbagai langkah untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan. Kami memastikan kondisi tetap aman, karena musim kemarau memiliki tingkat risiko yang tinggi,” ujar Kepala DKPP Kota Madiun Jemakir dalam keterangannya, di Madiun, Sabtu.

Dalam menghadapi tantangan musim kemarau, pihaknya telah memitigasi dengan menyiagakan sebanyak 1.071 sarana irigasi dan pompanisasi guna memastikan kebutuhan air petani tetap terpenuhi di wilayah Kota Madiun.

Selain mengoptimalkan jaringan irigasi dan pompanisasi, DKPP juga memastikan seluruh kelompok tani telah memiliki barcode pembelian bahan bakar minyak (BBM). Fasilitas tersebut diperlukan agar operasional pompa air di lapangan tidak terkendala selama musim kemarau.

Upaya lain yang dilakukan adalah mendorong petani menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan dan membutuhkan air lebih sedikit. Salah satu varietas yang direkomendasikan yakni Inpari 32.

Varietas Unggul Bersertifikat (VUB) Inpari 32 memiliki potensi hasil tinggi, tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) patotipe III, serta memiliki tingkat ketahanan sedang terhadap wereng batang cokelat.

Varietas Inpari 32 juga adaptif terhadap kondisi ketersediaan air yang terbatas, sehingga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya antisipasi terhadap dampak perubahan iklim, termasuk potensi datangnya fenomena El Nino.

“Benih Inpari 32 telah diberikan kepada 34 Kelompok Tani Berbadan Hukum Indonesia (BHI) yang tersebar di seluruh wilayah Kota Madiun,” katanya.

Tak hanya itu, pendampingan kepada petani juga dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan benih, pengolahan lahan, hingga penggunaan pupuk yang tepat agar hasil panen tetap optimal.

Untuk menjaga kualitas lahan, pemerintah turut menyalurkan pupuk hayati yang berfungsi memperbaiki struktur tanah, sekaligus meningkatkan kemampuan tanah menyimpan cadangan air. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempertahankan produktivitas lahan saat curah hujan menurun.

“Peningkatan produktivitas lahan harus ditingkatkan. Ini mengingat lahan pertanian yang terbatas di Kota Madiun,” katanya lagi.

Jemakir menambahkan, luas lahan pertanian di Kota Madiun saat ini sekitar 870 hektare. Luas sawah tersebut terus menyusut akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan kawasan perkotaan. Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi fokus utama pemerintah di tengah keterbatasan lahan yang tersedia.

Ia berharap dengan upaya mitigasi yang dilakukan dalam menghadapi masa tanam di musim kemarau tahun 2026, produksi padi di Kota Madiun dapat dipertahankan dan bahkan meningkat.

Data BPS Kota Madiun mencatat luas panen padi pada 2025 di Kota Madiun mencapai sekitar 1.974 hektare dengan produksi padi 11.069 ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 6.392 ton beras.(wa/an)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button