“Ada Fulus Mulus, Tak Ada Mamfus” (Humor Perang Iran-AS-Israel)

Oleh: Soenarwoto
SAUDI Arabia mendukung Amerika Serikat (AS). Begitu kata banyak pengamat melakukan analisa. Bidak catur Saudi yang dimainkan oleh Mohamad bin Salman (MBS), putra mahkota Raja Salman itu berada di kubu AS. Bukan sekadar mendukung moril, tapi diam-diam Saudi juga menyokong dana untuk menggempur Iran. Dasar Saudi “takban harban”. Bahlul.
“Saudi selama ini memiliki hubungan sangat dekat dengan AS, dalam hal persenjataan dan bisnis. Maka tidak heran jika kIni Saudi berpihak kepada AS. Saudi itu kiblatnya barat, orientasinya fulus. Uang,” kata pengamat sinis menyikapi posisi Saudi dalam perang Iran vs AS kini.
Mendengar ini saya teringat KH Hasyim Muzadi (alm), mantan Ketua Umum PBNU. Pada sebuah ceramahnya dalam pemberangkatan haji jemaahnya, beliau mengatakan bahwa “Tanah Suci itu Yang Suci Tanahnya”. “Orang-orangnya, hampir semua brengsek. Brengseknya melebihi orang-orang di Indonesia. Sudah banyak kisah jemaah umrah dan haji kita jadi korbannya di sana,” ungkap Kiai Hasyim.
Mengapa di Tanah Suci banyak yang brengsek, sambungnya, itu karena di sana masih banyak keturunan Abu Jahal dan Abu Lahab. Malah beranak-pinak, bercucu-cicit, dan sekarang ngrembayah keturunannya. “Jadi, jangan dianggap di Tanah Suci itu orangnya alim-alim dan soleh-soleh. Tidak. Keturunan Abu Jahal, Abu Lahab dan kafir Qurais itu tambah banyak sekarang,” ungkap Kiai Hasyim dengan tersenyum.
Mendengar ini, saat itu, saya ragu. Tapi kemudian setelah saya berkali datang ke Tanah Suci akhirnya percaya. Benar adanya. Banyak orang brengsek di Tanah Suci. Berkali saya dikibuli dan kena tipu. Amfun. Cara mengibul dan menipu sangat rapi. Aksinya tentu selalu dibungkus jubahnya, komat-kamit berdzikir, dan kencang mengitarkan butiran tasbihnya. Juga bikin alibi, umpanya ingkar janji, mereka sangat meyakinkan korbannya.
Sesungguhnya itu semua hanya modus.
Satu niatnya dapat fulus. Mereka pun seakan punya motto: “Ada Fulus Mulus, Tak Ada Fulus Mamfus.” Di sana semua diukur dengan serba uang. Jika bisa yang didapat malah berlipat. Fulus…fulus, ya Habibi!
Tak heran jika Saudi atau MBS kini membela AS. Sebab kiblatnya bukan “Ka’bah”, tapi “fulus”. Maka tak bisa disalahkan jika Iran merudal kantor kedutaan AS di Ryad. Dan merudal Aramco, perusahaan minyak dan gas bumi terbesar dunia di Dhahran. Dan, sangat lazim pula jika kini masyarakat muslim dunia “mengutuk” Saudi. Bahkan menuntut MBS bersama ayahnya (Raja Salman) digulingkan dari tampuk kekuasaannya.
Hal itu mungkin, masyarakat muslim dunia kini sudah tahu bahwa MBS dan Raja Salman ini, bukan sebenarnya penjaga “haramain” atau penjaga dua Tanah Suci (Makkah dan Madinah). Indikasinya, dia tak bersaudara dengan sesama muslim, tapi bersaudara dengan “fulus” (baca AS). Atau jangan-jangan MBS itu keturunan Abu Jahal atau Abu Lahab? (**)
Penulis adalah wartawan senior



