Opini

Maafkan Lain, Maafkan Diri, Bermaafan


Oleh: Soenarwoto

BERSAMAAN sidang isbat atau penetapan 1 Syawal 1447 H. Saya teringat hadist; berkisah tentang kejadian Nabi Muhammad SAW seusai salat Idul Fitri. Beliau tiba-tiba menengadahkan tangan ke langit dan mengucap “Aamiin” sebanyak tiga kali. Kejadian tersebut keruan membuat heran dan penasaran para sahabat.

“Wahai Rasul, barusan tadi engkau melakukan apa. Kami melihat, Rasul tiba-tiba menengadahkan tangan ke atas lalu berucap aamiin sebanyak tiga kali,” tanya seorang sahabat.

Mendapati pertanyaan itu Rasul pun menjawab. “Ketahuilah wahai para sahabatku, tadi aku kedatangan malaikat Jibril. Dia diperintah oleh Allah untuk berdoa bagi umat muslim yang wajib aku amini,” jawab Rasul.

Ada tiga doa malaikat Jibril yang wajib diamini Rasul. Pertama, malaikat berdoa jangan diterima seluruh ibadah dan amal perbuatan selama hidupnya “anak durhaka” kepada orang tuanya. Kedua, jangan diterima seluruh ibadah dan amal perbuatan selama hidupnya “isteri durhaka” kepada suaminya. Ketiga, jangan diterima ibadah dan amal perbuatan selama hidupnya “muslim pendedam” (tak memaafkan lain).

Untuk doa pertama, para sahabat sangat menerimanya. Anak memang wajib hormat dan menyayangi orang tua. Itu perintah Allah dan Rasul. Bahkan restu orangtua adalah restu Allah juga. Dalil lainnya begitu banyak tertuang dalam Al-Quran dan hadist.

“Tapi untuk doa kedua, mengapa diperlakukan hanya kepada isteri saja. Bukankah juga banyak suami durhaka kepada isterinya,” tanya sahabat.

Mendengar pertanyaan ini Rasul menjawab dengan singkat, “Itu adalah ketetapan-Nya. Allah Maha Tahu lagi Maha Bijaksana,” kata Nabi. Mendapat jawaban itu seluruh sahabat memahami dan mengamini. Setuju dengan penuh takzim. Samikna waatokna.

“Lalu, mengapa kita diwajibkan memaafkan kesalahan orang lain,” tanya lagi sahabat. Rasul pun dengan singkat menjawab, “Allah itu Maha Pemaaf lagi Maha Pengasih.”
Mendapat jawaban itu seluruh sahabat memahami dan mengamini. Setuju dengan penuh takzim. Samikna waatokna.

Doa ketiga ini, menurut kaum sufi dan ahli hikmah, “memaafkan” itu bukan hanya sekadar “membebaskan” kesalahan orang lain, tapi juga “memaafkan” diri sendiri. Dengan memaafkan lain, hati ini jadi bebas dari rasa dendam, benci, dan segala amarah. Hati jadi tenang dan tenteram. Hidup pun bahagia.

Tengok dan sadarilah, begitu banyak orang menderita hidupnya gegara tak bisa memaafkan lain. Di hatinya hanya dipenuhi rasa dendam dan amarah, yang merusak dan membakar kenikmatan hidupnya. Dunia kini menderita, akherat nanti masuk neraka. Tersiksa dunia-akherat. Naudzubillah.

Hari Raya Idul Fitri telah tiba, mari kita saling bermaaf-maafan dengan sesama untuk menggapai jiwa yang fitri (suci). Biar hidup jadi tambah senang dan bahagia. Pembaca budiman Harian Jatim, penulis mengucapkan; Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H; Minal Aidzin Wal Faizin; Mohon Maaf Lahir dan Batin. (**)

Penulis adalah wartawan senior

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button