Opini

Ramai “Iktikaf” Bukan di Masjid.

Oleh: Soenarwoto

HARI-hari akhir bulan suci Ramadhan 1447 H. Berlalunya Ramadhan ini, kita akan bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri. Hari di mana setelah kita menjalani ibadah puasa sebulan penuh, akan menggapai jiwa yang suci (fitri). Kondisi seperti dulu kita dilahirkan ke dunia dengan tanpa salah dan dosa; fitrah.

Tadi malam usai salat terawih, saya mengikuti tausyiah seorang ustad ndeso. Tema tausyiahnya berjudul “Akhir Ramadhan, Ramaikan Masjid dengan Iktikaf”. Iktikaf adalah berdiam diri di masjid dengan berdzikir, berdoa, dan baca Al-Quran. Dengan harapan mendapatkan malam Lailatul Qadar. “Berburu malam Lailatul Qadar itu di masjid, bukan di toko baju dan mal,” canda ustad ndeso di sela tausyiahnya.

Menggelitik. Usai mengikuti tausyiah itu, pikiran saya melayang ke masa silam, saat masih bocah menjelang datangnya Hari Raya. Di kampung saya, Hari Raya disebut “Riyaya”. Menjelang datangnya “Riyaya”, biasanya, bocah-bocah kecil suka mendendangkan “tembang tradisi” tahunan. Syairnya begini; “Riyaya riyadin. Bada-bada ora salin..” (maknanya; Hari Raya itu Lebarannya orang beragama. Hari Raya bajunya kok tidak berganti).

Tembang ini terasa satir bagi orang tua. Sebab, tembang itu adalah bentuk protes atau tuntutan anak-anak minta dibelikan baju baru buat lebaran. Mendengar bocah-bocah mendendangkan tembang itu, tak pelak bikin para orang tua jadi gerah. Orang tua pun segera pergi ke pasar untuk membelikan baju Lebaran buat anak-anaknya.

Lalu, saat Lebaran tiba, anak-anak itu  saling memakai baju baru. Mereka saling memamerkan bajunya. Riyaya atau Lebaran tiba jadilah ajang riya’. Pamer. Tak hanya itu, di antara mereka pun ada yang mengolok temannya yang tidak memakai baju baru. “Riyaya riyadin, Riyaya Riyaya ora salin,” dendangnya.

Anak yang diolok pun menangis. Pulang lalu mengadu kepada orangtuanya, mengapa dirinya tidak dibelikan baju Lebaran. Bagi orang miskin di kampung kami dulu, Lebaran adalah hari yang sangat menyedihkan. Sebab, akan menanggung malu jika tak bisa membelikan baju Lebaran untuk anaknya.

Rupanya, masyarakat kita selama ini keliru dalam memaknai tembang tradisi itu. Sebab, maksud tembang itu dari sang penciptanya, Sunan Kalijaga, untuk menyindir orang berpuasa yang tidak mendapatkan “baju baru”. Meningkatnya iman dan kesadarannya. “Baju” yang dikenakan masih tetap kotor, atau bernoda dosa–seperti sebelum menjalankan puasa. Padahal, setelah sebulan puasa semestinya mereka mengenakan “baju baru” atau jiwanya suci (fitrah) begitu datang Hari Raya Idul Fitri.

Dan, sampai sekarang tradisi beli baju lebaran itu kian membudaya hingga sekarang. Malah kian menggila. Lihatlah, setiap Hari Raya tiba, tradisi masyarakat kita selalu ramai-ramai beli baju baru saat menjelang Lebaran tiba. Toko-toko baju dan mal-mal penuh sesak oleh orang beli baju.

 Demi mendapatkan baju baru, mereka lupa atau lalai akan hakikat puasa. Jangankan iktikaf, berdiam untuk mendekatkan diri kepada Illahi Robbi di masjid, mereka malah banyak yang meninggalkan ibadahnya. “Iktikafnya” kini beralih dari masjid ke mal-mal atau toko baju.

Demi antrean beli baju baru, malah banyak orang rela “mokel” (makan-minum sebelum waktu berbuka) dan meninggalkan salat fardhu. Itu semua dilakukan demi mendapatkan “baju jazad” (ego), bukan “baju rohani” (iman). “Riyaya” kini jadilah Riya’ ya. Pamer ya?   (**)

Penulis adalah wartawan senior

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button