Band FUZHI Asal Sidoarjo Hadirkan Musik Filosofis, Rilis 11 Lagu dalam Album Agnothesia

SIDOARJO, Harianjatim.net – Band asal Sidoarjo, FUZHI, hadir dengan konsep musik yang sarat makna dan filosofi. Nama FUZHI sendiri terinspirasi dari pemikiran filsafat kuno Tiongkok, yakni kata Fuzi yang memiliki arti rencana, kesetiaan, serta perpaduan.
Filosofi tersebut menjadi dasar para personel FUZHI dalam berkarya. Mereka ingin menghadirkan band yang mampu menggabungkan berbagai unsur musik dan pemikiran menjadi karya yang cerdas, jujur, serta memiliki makna mendalam.
Bagi FUZHI, musik bukan sekadar hiburan. Lagu yang mereka ciptakan diyakini sebagai refleksi jati diri musisi yang dituangkan melalui nada dan lirik.
Perjalanan band ini bermula pada 2020 ketika dua musisi, Iwan dan Aje, kerap berdiskusi mengenai berbagai genre musik. Dari diskusi tersebut, keduanya menemukan kesamaan visi tentang konsep karya yang ingin mereka ciptakan.
Setahun kemudian, pada 2021, Iwan memperkenalkan sebuah lagu yang kemudian menjadi titik awal perjalanan FUZHI. Dari proses tersebut lahirlah lagu pertama mereka berjudul “Mencoba Melupakan.”
Dalam proses produksinya, FUZHI bekerja sama dengan Planet Rock Studio untuk pengerjaan instrumen. Pada lagu tersebut, Aje mengisi bagian drum sekaligus vokal, sementara bagian lainnya dikerjakan secara kolaboratif.
Aje menjelaskan, FUZHI lahir dari semangat yang sama untuk menghadirkan karya musik yang jujur dan berasal dari pengalaman pribadi para personelnya.
“FUZHI lahir dari energi satu frekuensi. Kami percaya lagu yang datang dari hati akan sampai ke hati para pendengar. Bagi kami, karya musik juga bagian dari jati diri seorang musisi,” ujar Aje.
Setelah lagu pertama, FUZHI kembali merilis karya berjudul “KOKA (Kopi Kawan).” Lagu tersebut bahkan dipercaya menjadi theme song BITBOX Patch 2021/2022. Tak hanya itu, pada 2024 lagu tersebut juga di-cover dalam gim Clone Hero Guitar oleh komunitas Guitar Hero Indonesia.
Dalam perjalanannya, FUZHI sempat menghadapi tantangan dalam melengkapi formasi band, terutama dalam mencari vokalis yang sesuai dengan karakter musik mereka. Pada masa itu, Iwan sempat meminta Aje untuk tetap mengisi vokal sementara.
Hingga akhirnya, melalui media sosial Instagram, mereka menemukan Guntur yang kemudian bergabung sebagai vokalis. Guntur langsung mengisi vokal pada lagu ketiga berjudul “Saatnya Aku Pergi.”
Formasi FUZHI semakin kuat setelah mereka bertemu dengan Rafi Ansi, yang kemudian turut bergabung dan mengisi vokal pada lagu keempat berjudul “Tanpamu.”
Dengan formasi yang semakin solid, FUZHI berkomitmen untuk mandiri dalam proses produksi karya mereka. Komitmen tersebut dimulai dari lagu kelima berjudul “Aku dan Tuhanku.”
Sejak saat itu, band ini terus melanjutkan proses kreatif hingga berhasil merilis 11 lagu yang kemudian dirangkum dalam album pertama bertajuk “Agnothesia #1.”
“Kami sepakat untuk berdikari dalam produksi karya. Mulai dari proses kreatif sampai rilis, semuanya kami kerjakan dengan komitmen bersama,” kata Aje.
Perjalanan musik FUZHI terus berlanjut. Pada 2025, mereka merilis album kedua berjudul “KUSALA Side-A” yang berisi enam lagu.
Proyek tersebut kemudian dilanjutkan dengan “KUSALA Side-B,” yang diawali dengan perilisan single “Karma” pada awal 2026. Saat ini, FUZHI masih menyiapkan sejumlah lagu lanjutan untuk melengkapi Side-B yang direncanakan rilis secara bertahap sepanjang tahun 2026.
Melalui karya-karya tersebut, band asal Sidoarjo ini berharap dapat terus menghadirkan musik yang jujur, filosofis, dan dekat dengan para pendengar.
“Kami berharap setiap karya FUZHI bisa menjadi ruang bagi pendengar untuk menemukan makna mereka sendiri. Perjalanan ini masih panjang dan kami akan terus berkarya,” tutur Aje.
FUZHI pun mengajak para penikmat musik untuk menantikan karya-karya terbaru yang saat ini sedang mereka persiapkan.








