Langka “BBM” Mudik pun Jadi

Oleh: Soenarwoto
SUDAH menjadi tradisi masyarakat kita secara temurun, khususnya warga Jawa, setiap tahun selalu menjalani “ritual” Mudik Lebaran. Ini dilakukan khususnya bagi mereka yang merantau. Dalam mencari penghidupan mereka ada yang merantau di kota lain, provinsi lain, pulau lain dan bahkan ke negara lain. Mereka kini hampir semuanya Mudik Lebaran. Beramai-ramai.
Satu tujuan mereka mudik Lebaran adalah untuk bisa bertemu orang tua atau keluarga dan sanak handai taulan di kampung halaman. Bersilaturahmi. Menjalin atau merajut hubungan kekeluargaan dan kekerabatan setelah setahun atau dalam rentang waktu yang lama mereka tak berjumpa. Kiranya itulah yang menjadikan Mudik Lebaran bagi masyarakat kita adalah “momen sakral” yang tak bisa terhindarkan.
Lebaran tanpa berkumpul dengan anggota keluarga rasanya hambar. Kurang afdhol atau kurang sempurna. Bahagianya Lebaran itu adalah berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Akan menjadi sedih bahkan nangis jika lebaran tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Meski tak sedikit perantau tidak bisa mudik, karena suatu hal tertentu, kini bisa menjalin bersilaturahmi dengan bertelepon atau melakukan WA.
Tapi, hal itu dirasakan kurang sempurna jika tak bisa bertemu langsung dengan orang tua, anak, saudara, dan anggota keluarga. Momen Lebaran itu memiliki kebahagian tersendiri jika lebaran bisa mudik; bertemu orang tua dan keluarga. Dengan begitu bisa “sungkem” kepada orang tua dan bermaaf-maafan dengan anggota keluarga, kerabat, dan tetangga dekat. Selain itu, makan bersama menikmati menu spesial lebaran; opor ayam dan ketupat dengan keluarga adalah kenikmatan yang kian melengkapi suasana lebaran.
Sementara itu dalam dimensi agama, khususnya Islam, momen Idul Fitri setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu saling bermaafan akan “menghapus” salah dan dosa. Dengan saling bermaaf-maaafan akan dikaruniai Allah SWT dengan diri atau jiwa yang fitri. Puncak capaian diri menjadi fitri atau terbebas dosa inilah yang diidam-idamkan bagi kita semua.
Kiranya inilah yang terpenting dalam momen Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri tiba. Begitu pentingnya arti Idul Fitri itu, sampai-sampai apa pun kendala, rintangan bahkan ancaman nyawa saat mudik tak dihiraukan. Tak punya uang, mereka nekad dibelani cari pinjaman atau utangan, buat ongkos untuk mudik.
Antrean panjang, kemacetan lalu lintas, banyak jalan rusak, berlubang, dan jembatan putus pun akan diterjang. Bahkan pada Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M ini terjadi perang Iran dengan AS-Israel. Lokasi perang jauh memang, tapi dampak krisis BBM terjadi disemua negara, termasuk Indonesia.
Terbukti, menjelang masim mudik lebaran ini terjadi kelangkaan BBM di setiap kota. Bahkan sejumlah SPBU di hampir setiap kota kini kehabisan stoc, dan begitu malam tiba (sehahis Maghrib) tak sedikit SPBU tutup (tak beroperasi). Sebab, menurut petugas SPBU pasokan dari Depo Pertamina mengalami keterlambatan datang.
Meski terjadi ancaman kelangkaan BBM, tapi tak menyurutkan laju pengendara (motor dan mobil) mudik Lebaran. “Jika SPBU tutup, ya cari BBM eceran. Jika tak ada pertalite, ya beli pertamak. Kok semuanya nggak ada, ya nunggu sampai datang. BBM ngak datang, ya kita isi air atau kita kencingi,” kata kecewa pengendara dari luar kota yang semalam kehabisan BBM dan mendapati SPBU di sepanjang Madiun-Ponorogo tak beroperasi karena kehabisan stock. (**)
Penulis adalah wartawan senior

