
BANYUWANGI, harianjatim.net – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebutkan keberadaan pusat seni budaya di Dusun Patoman Tengah, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dinilai penting untuk menjaga tradisi lokal pada Minggu, 10 Mei 2026.
“Selain untuk menjaga tradisi lokal, di dusun ini sekaligus membentuk ruang kreatif bagi generasi muda Banyuwangi,” ujar Bupati Ipuk di Banyuwangi, Minggu.
Dusun Patoman Tengah, kata Ipuk, juga dikenal masyarakat sebagai Dusun Balian karena mayoritas warganya adalah umat Hindu.
Di dusun tersebut, lanjut Ipuk, selain masyarakatnya dikenal toleransi, juga menyimpan potensi seni budaya dan rumah-rumah penduduknya mirip dengan rumah di Pulau Bali, ditambah pula dengan bangunan pura.
“Selain dikenal sebagai kampung seni, dusun ini juga memiliki pelaku UMKM kreatif yang berkembang pesat, salah satunya usaha seni ukir kayu dan pasir milik Kayan Suartana,” kata Ipuk.
“Kayan merintis usahanya di Banyuwangi sejak tahun 2000 sambil aktif sebagai seniman tari dan musik tradisional,” tambahnya.
Menurut Ipuk, dedikasi Kayan melestarikan budaya melalui seni ukir membuatnya menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada 2015.
Usaha Kayan ini, kata Ipuk, terus berkembang dengan memproduksi berbagai kerajinan berbahan kayu dan pasir pantai, produknya meliputi ornamen rumah hingga patung artistik yang dipasarkan ke Bali, Nganjuk, hingga Jawa Tengah.
“Potensi ekonomi Dusun Patoman tidak hanya berasal dari sektor seni dan budaya, warga juga mulai mengembangkan budi daya Cabai Jawa atau Cabai Puyang yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” ujar Ipuk.
Kepala Dusun Patoman Tengah I Gede Yuda Permana mengatakan masyarakat di dusun itu hidup berdampingan dengan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial, tak heran jika Dusun Patoman dikenal sebagai Kampung Pancasila, karena toleransi antarumat beragama.
“Selama ini tidak pernah ada masalah, kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu, dan begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi,” katanya.
“Di sini terdapat Pura Desa yang tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas seni dan budaya masyarakat, dan anak-anak hingga remaja rutin belajar agama, tari tradisional, gamelan, dan berbagai kesenian daerah lainnya,” kata I Gede Yuda Permana.(wa/an)








