Berita

DLH Gresik Olah Sampah Bernilai Ekonomis

Gresik, harianjatim.net – Penanganan persoalan sampah di Kabupaten Gresik gencar dilakukan Pemkab Gresik. Setelah tahun 2023 lalu adanya mesin RDF (Refuse Derivied Fuel ). Kali ini, untuk memaksimalkan penanganan, penambahan mesin teknologi canggih didatangkan lagi. Yakni mesin landfill mining.

Mesin yang bakal mengolah sampah yang telah tertimbun selama 10 tahun lebih di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Ngipik Kecamatan Gresik.

Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sampah akan diolah menjadi barang bernilai ekonomis. Mulai RDF (cacahan sampah anorganik), urugan serta briket.

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani mengatakan program penanganan sampah sebagai tindak lanjut arahan Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto agar pengelolaan sampah memberikan nilai tambah ekonomi.

“Launching landfill mining untuk pengolahan sampah sebagai dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga lingkungan,” kata Bupati saat peluncuran mesin landfill mining di TPA Ngipik, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya pengelolaan TPA Ngipik telah melalui proses panjang. Saat sejumlah TPA di daerah lain ditutup pemerintah pusat karena pengelolaan yang tidak sesuai ketentuan, TPA Ngipik tetap beroperasi.

“ Alhamdulillah TPA Ngipik tak ditutup pemerintah pusat. Sebab, sampah yang ada dikelola tidak hanya ditumpuk atau open dumping. Salah satunya dengan sistim RDF,” tuturnya.

Gus Yani (sapaan akrab Fandi Akhmad Yani) menyebut jumlah penduduk Gresik sekitar 1,3 juta jiwa dan bisa mencapai dua juta orang pada siang hari karena banyak pekerja dari luar daerah. Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan volume sampah, yang kini mencapai lebih dari 200 ton per hari.

Sebelum beroperasinya TPST Belahanrejo di Kecamatan Kedamean, sampah dari wilayah Gresik selatan dibuang ke TPA Ngipik.

“Sekarang dengan adanya TPST Belahanrejo pembuangan sampah di TPA Ngipik berkurang..Sampah warga Gresik selatan sekarang dibuang di TPST Belahanrejo,” paparnya.

Ke depan, Pemkab Gresik berencana membangun TPST di wilayah Gresik utara.
“ Pak Wabup sudah lakukan musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) dengan masyarakat utara untuk pembangunan TPST sehingga penanganan sampah di Kabupaten.Gresik makin baik,” katanya.

Menurutnya setelah adanya mesin landfill mining, tahun depan bisa terbangun insenerator (tungku pembakaran) di TPA Ngipik.

“Sebagai sarana pelengkap. Tahun depan mudah-mudahan bisa terbangun insenerator yang tidak menghasilkan karbon diaksoda (CO2) diatas, namun dibawah,” tambah Gus Yani.

Ia juga menekankan DLH bersinergi dan mengajak pemerintah desa untuk membangun TPS3R.

“ Satu desa satu TPS3R. Namun jika belum mampu, bisa dua desa atau tiga desa satu TPS3R. Jadi nanti bisa mengurangi pembuangan sampah ke TPA Ngipik. Kecuali yang tidak bisa diolah contohnya kayu besar,” tandasnya.

Selain persoalan sampah, Gus Yani mendorong pengolahan ruang terbuka hijau (RTH). Agar Gresik semakin hijau dan asri.

“ Peluncuran mesin landfill mining sekaligus jadi kado Ultah Gresik. Semoga bermanfaat bagi masyarakat,” pungkas Gus Yani.

Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman menyampaikan bahwa pembangunan landfill mining dibiayai APBD Gresik tahun 2025 sebesar Rp 6 miliar.

“ Pengolahan sampah di TPA Ngipik produk fraksi organik untuk tanah uruk, fraksi non organik untuk RDF dimanfatakan SIG pabrik Tuban dan Rembang dan fraksi batu krikil untuk urukan jalan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Gresik Sri Subaidah menambahkan, sampah TPA Ngipik hasil RDF dilakukan kerjasama dengan PT SIG Tuban sejak tahun 2024.

“ Dalam kerjasama ini sampah hasil RDF dibeli SIG Rp 650 ribu perton,” katanya.

Ia menambahkan, DLH dalam RDF sampah mendapatkan target pendapatan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari DPRD Gresik.

“ Tahun ini kami mendapatkan target PAD Rp 100 juta,”tandasnya.

Sri menambahkan, selain menghasilkan RDF sebagai EBT, proses pengolahan juga menghasilkan tanah urug dan media tanam yang bernilai guna.

“ Pengembangan sampah menjadi EBT diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus memberi nilai tambah ekonomi serta memperpanjang usia pakai TPA. Sejalan mendukung Gresik menjadi daerah lebih bersih serta ramah lingkungan,” pungkas Sri.

TPA Sampah Ngipik telah beroperasi sejak Tahun 2002 dengan luasan 9,5 hektar. Terbagi, seluas 2,5 hektar area sarpras dan 7 hektar area landfill.

Area landfill TPA terbagi tiga zona. Dua zona pasif dan satu zona aktif dengan metode pengolahan controlled landfill.

Mulai Tahun 2023, DLH Kabupaten Gresik berupaya melakukan pengolahan sampah berbasis RDF (Reduce Derived Fuel) yaitu bahan bakar dari hasil pengolahan sampah yang merupakan energi terbarukan pengganti bahan bakar fosil. RDF yang dihasilkan telah dimanfaatkan atau dijual ke Pabrik Semen sebagai tambahan PAD.

Selain itu, awal Tahun 2026 ini DLH Kabupaten Gresik melakukan kegiatan Mining Landfill di TPA Sampah, yaitu menambang sampah yang telah tertimbun lebih dari 10 (sepuluh) tahun untuk diolah.

Landfill mining adalah metode pengolahan sampah dengan cara menambang, menggali, dan memilah kembali sampah yang sudah tertimbun lama di zona tidak aktif tempat pemrosesan akhir (TPA/TPST). Tujuan utamanya adalah mengurangi volume sampah, mengonversi material lama menjadi bahan bakar alternatif (RDF/Refuse Derived Fuel), serta memperpanjang usia pakai TPA. (dik)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button