Berita

Ketum PB PGRI Soroti Kubu-Kubuan Guru ASN, PPPK, dan Honorer di Konkernas PGRI 2026

JAKARTA,Harianjatim.net – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Teguh Sumarno, menyoroti masih adanya kubu-kubuan di kalangan guru Aparatur Sipil Negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan guru honorer atau paruh waktu. Persoalan tersebut dinilai berpotensi memecah persatuan guru jika tidak segera diantisipasi.

Pernyataan itu disampaikan Teguh saat membuka Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) PGRI 2026 yang digelar di Jakarta, Jumat-Sabtu (19–20/6/2026). Melalui forum tersebut, PB PGRI mengajak seluruh pengurus di tingkat pusat hingga daerah untuk memperkuat solidaritas serta menyatukan visi perjuangan demi meningkatkan kesejahteraan dan martabat profesi guru.

“Sekarang guru-guru ini berkubu-kubu, ada ASN, PPPK, dan guru paruh waktu. Kalau PB PGRI, pengurus provinsi hingga kabupaten/kota tidak tanggap, maka kubu-kubu ini akan berkepanjangan” ujar Teguh.

Menurut Teguh, PGRI saat ini tengah menghadapi berbagai upaya yang berpotensi memecah belah organisasi. Karena itu, seluruh jajaran pengurus diminta serius mengantisipasi persoalan tersebut agar persatuan para guru tetap terjaga.

“Apabila kami dari PB PGRI tidak serius mengantisipasi persoalan tersebut, kalian akan berdosa. Saya berharap tidak ada lagi kubu-kubuan para guru” tegasnya.

Teguh juga meminta seluruh pengurus PGRI di daerah aktif menyerap aspirasi para guru. Menurutnya, PB PGRI merupakan perpanjangan tangan bagi berbagai persoalan yang disampaikan pengurus di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“Guru sudah tidak berani berteriak menyampaikan aspirasi. Guru tidak berani menentang birokrasi. Hanya lewat PGRI yang bisa mewakili hati nurani mereka untuk memperbaiki kehidupan guru yang lebih baik” katanya.

Melalui Konkernas PGRI 2026, Teguh mengajak seluruh pengurus menyatukan kembali visi perjuangan dalam menegakkan martabat profesi guru dan tenaga kependidikan. Menurutnya, PGRI tidak hanya memperjuangkan peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga kesejahteraan sosial dan ekonomi para guru.

Ia mencontohkan masih banyak guru yang bertugas di daerah pegunungan, kepulauan, hingga wilayah terpencil yang belum mendapatkan perhatian secara optimal.

“Insya Allah, dengan kehadiran pengurus PB PGRI saat ini dan melalui Konkernas PGRI, kita bisa membawa perubahan bagi para guru. Kalau PGRI jujur dan adil, masyarakat Indonesia bisa makmur” ujarnya.

Selain itu, Teguh menegaskan pentingnya integritas dalam tubuh organisasi. Menurutnya, perubahan hanya dapat terwujud apabila seluruh pengurus menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab.

Ia juga menyoroti nasib guru honorer yang hingga kini masih menerima gaji setiap tiga bulan sekali. Kondisi tersebut dinilai menjadi persoalan serius yang harus segera diperjuangkan.

“Bagaimana seorang guru mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik jika honornya saja tidak diperhatikan dan baru dibayarkan setiap tiga bulan sekali” katanya.

Di akhir sambutannya, Teguh berharap seluruh peserta Konkernas yang ingin mengabdi sebagai pengurus PGRI memiliki semangat perjuangan yang kuat serta memahami berbagai persoalan dan keluhan yang dihadapi guru di seluruh Indonesia.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button