BeritaBisnisNasional

Menteri KKP Tekankan Rehabilitasi Mangrove Harus Topang Ketahanan Pangan dan Ekonomi Pesisir

DENPASAR, harianjatim.net – Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono menegaskan rehabilitasi mangrove tidak boleh berhenti pada kegiatan penanaman semata, tetapi harus memulihkan fungsi ekologis ekosistem pesisir dan mampu menopang ketahanan pangan, serta ekonomi masyarakat pesisir.

​Menteri Sakti Wahyu Trenggono saat menghadiri acara puncak Hari Mangrove Sedunia di Denpasar, Minggu (26/7/2026), menyatakan mangrove memiliki peran strategis sebagai pelindung wilayah pesisir, habitat pembesaran berbagai biota laut, penyerap karbon biru, serta penopang mata pencaharian masyarakat pesisir.

​Menteri Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa meningkatnya populasi dunia yang diperkirakan mendekati 10 miliar jiwa pada 2050, termasuk sekitar 320 juta penduduk Indonesia, akan meningkatkan kebutuhan pangan dan protein sehingga Indonesia memiliki posisi penting sebagai salah satu produsen perikanan dunia.

​Menteri Sakti Wahyu Trenggono menyebutkan potensi tersebut menghadapi ancaman serius.

​Dalam tiga dekade terakhir, Indonesia kehilangan sekitar 40 persen kawasan mangrove dengan laju kerusakan mencapai sekitar 52 ribu hektare per tahun, di samping sekitar 19,2 persen mangrove nasional yang berada dalam kondisi kritis.

​”Rehabilitasi mangrove tidak boleh berhenti pada kegiatan penanaman semata, tetapi harus dilakukan berbasis kesesuaian ekologis agar fungsi ekosistem benar-benar pulih,” ujar Trenggono pada Minggu (26/7/2026).

​Menteri Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembangkan kebijakan ekonomi biru melalui lima aspek utama, yakni perluasan kawasan konservasi laut hingga target 97,5 juta hektare pada 2045, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan budidaya berkelanjutan, penguatan pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pengurangan sampah plastik di laut melalui partisipasi masyarakat.

​Kementerian Kelautan dan Perikanan juga menetapkan enam program prioritas sektor kelautan dan perikanan periode 2025-2029.

​Salah satu program prioritas tersebut adalah revitalisasi tambak Pantai Utara Jawa yang mengintegrasikan restorasi mangrove dengan pengembangan kawasan budidaya perikanan.

​Program tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 800 ribu ton produksi per tahun dengan nilai ekonomi mencapai Rp20 triliun serta menciptakan sekitar 83 ribu lapangan kerja.

​Menteri Sakti Wahyu Trenggono menegaskan keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari banyaknya pohon yang ditanam, melainkan dari pulihnya fungsi ekologis dan meningkatnya manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.

​Menteri Sakti Wahyu Trenggono juga menekankan keberhasilan pelestarian mangrove membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan melalui kebijakan terpadu, pemanfaatan ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan pendanaan, pengawasan, dan edukasi.

​Mengakhiri sambutannya dalam peringatan Hari Mangrove Sedunia, Minggu (26/7/2026), Menteri Sakti Wahyu Trenggono mengajak seluruh pihak memperkuat komitmen bersama menjaga dan mengelola ekosistem mangrove demi mewujudkan pesisir yang tangguh, laut yang produktif, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.( wa/an)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button