
BENGKULU,HarianJatim.net – E-commerce telah menjadi bagian integral dari kehidupan anak muda di Indonesia. Kemudahan, aksesibilitas, dan berbagai penawaran menarik membuat mereka semakin tertarik untuk berbelanja online.
Meskipun demikian, penting bagi anak muda untuk tetap bijak dalam berbelanja dan memanfaatkan e-commerce sebagai peluang untuk berinovasi dan berbisnis. Gen Z menjadi salah satu kelompok konsumen yang paling aktif di e-commerce, dengan perilaku belanja yang unik dan dipengaruhi oleh teknologi.
Mereka cenderung berbelanja melalui ponsel pintar, mencari pengalaman belanja yang interaktif, dan sangat dipengaruhi oleh media sosial dan influencer. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat telah menjadi kanal komersial penting bagi Gen Z, dengan fitur-fitur yang memungkinkan pembelian langsung, Faktor harga, diskon, dan metode pembayaran yang fleksibel sangat memengaruhi keputusan pembelian mereka.
Di Bengkulu misalnya, trend dalam jalankan E-Commerce kian meningkat. Program offline yang kian melemah kini semua beranjak di online.
Thalita Aprilia salah satu karyawan dari perusahaan retail fashion ternama di Indonesia ceritakan tentang potensi kenaikan permintaan pasar akan Online, “anak muda saat ini cenderung tidak bisa jauh dari gawai, selagi mereka ada saldo di rekeningnya. Dan kebutuhan akan bersosialnya wajib dipenuhi maka onlinelah jalan pintas mereka, terbukti penjualan online sekarang marak dicari.” Pungkas Thalita.
Shopee lewat studi terbarunya mengungkapkan perilaku belanja di kalangan Gen Z di Asia Tenggara. Survei terhadap lebih dari 2.400 pembeli yang dilakukan oleh divisi Profile Kantar mencatat hampir 70% Gen Z menjadikan platform e-commerce sebagai titik masuk perjalanan belanja mereka.
Para Gen Z juga mengandalkan platform ini untuk riset sebelum berbelanja.Meskipun memilih untuk melakukan penelitian dan mencari produk sebelum berbelanja, mayoritas responden Gen Z (73%) menyelesaikan pembelian mereka di platform e-commerce.
Bahkan, 56% dari mereka yang pada awalnya menggunakan platform perdagangan sosial memilih untuk kembali ke platform e-commerce dan menyelesaikan transaksi di sana.








