Opini

“Termul” dan “Kai Pang”

Oleh: Soenarwoto

KETIKA negeri tercinta terjadi kebobrokan di segala lini kehidupan, khususnya penegakan hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas dan para pejabatnya korupsi gila-gilaan, saya teringat dengan komik silat berjudul “Pendekar Sakti” karya  Kho Ping Hoo. Kho Ping Hoo adalah maestro penulis komik (cerita bergambar) yang sangat kondang di era 1980-an.

Sejak kelas 1 SMA, saya sangat menggandrungi komik karya fiksi keturunan China kelahiran Sragen, Jateng, ini. Tulisannya luar biasa mengular lagi menari-nari; rancak dan apik. Meskipun fiksi, tapi tema yang diangkat selalu tentang kehidupan nyata; kebenaran melawan kebathilan.

Dalam komik berjudul “Pendekar Sakti” itu Cia Sin Liong adalah tokoh utamanya. Cia Sin Liong adalah nama ketika ia masih menggelandang di rimba persilatan. Masih gembel atau sebagai pendekar pinggiran.

Cia Sin Liong adalah sosok pendekar yang tak jelas asal-usulnya. Ia berpenampilan bak gelandangan. Kumisnya acak-acakan tak terurus, berambut gondrong, gimbal lagi. Berpakaian compang-camping, robek penuh tambalan, kotor, bau, dan dekil. Dia dijuluki “Bu Pun Su” (Pendekar Pengemis).

Cia Sin Liong selalu datang di setiap ada perkelaian antar-kelompok. Ia selalu membela kepada pihak yang lemah dan kalah. Termasuk membela rakyat yang tertindas oleh tentara kerajaan yang minta pajak dengan paksa. Keberpihakannya terhadap kaum lemah menjadikan ia disanjung-sanjung dan dipuja-puja. Cia Sin Liong kemudian jadi terkenal. Populis.

Ringkas cerita, begitu terkenal sebagai pembela kaum lemah, Cia Sing Liong akhirnya dengan gampang menjadi raja. Tatkala menjabat sebagai raja, ia berubah namanya dari Cia Sin Liong menjadi Kwa Sin Liong. Tapi, tak lama menjadi raja, tabiatnya berubah drastis. Dulu pembela kaum lemah dan rakyat bawah, setelah jadi raja ia berpihak kepada para “cukong” dan oligarki.

Dengan kuasa dan harta berlimpah, Kwa Sin Liong tambah sangat licik, culas, jahat, dan kejam. Kejahatan dan kekejamannya melebihi raja-raja sebelumnya. Lebih rakus kekuasaan. Keluarga dekat, anak, dan menantu dijadikan walikota dan gubernur, dengan tujuan untuk melanggengkan dinastinya.

Kwa Sin Liong juga mendirikan perkumpulan pendekar sakti yang diberi nama “Kai Pang” (Persatuan Pendekar Pengemis). Formasi organisasi Kai Pang diisi oleh para pendekar dan para jenderal setianya. Penjilat. Kai Pang kemudian digunakan sebagai alat “mengkriminalisasi” rakyat atau pihak-pihak yang mengusik kekuasaan Kwa Sin Liong.

Bukan hanya mengkriminalisasi lawan-lawan politiknya, tapi juga tak segan-segan membunuh lawannya secara hidup-hidup. Pembunuhannya dilakukan di Alon-alon atau tempat-tempat keramaian, agar penentang atau lawan ciut nyalinya. Keji dan biadab. Persetan dengan etika dan moral.

Melihat fenomena “Termul” yang kini membela rezim secara gila-gilaan, saya jadi teringat dengan “Kai Pang”, kelompok pembela Kwa Sin Liong itu. Seiring berputarnya takdir, Kwa Sin Liong  pun digilas zaman. Tumbang. Dengan sangat menyedihkan; ia dibenci dan diusir rakyatnya yang dulu memujanya kemudian menghina dengan sehina-hinanya Kwa Sin Liong.

Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button