Dukung Inovasi, Mas Plt. Camat Dorong Pengembangan Ketahanan Pangan Di Lahan Sempit

Plt. Camat Kranggan, Setiyo Budi Utomo. Dorong pengembangan budidaya lele di lahan sempit.
Mojokerto, harianjatim.net – Aplikasi program Strategis Nasional bidang Ketahanan Pangan di Kota Mojokerto kini menyentuh grassroot. Tidak hanya cabaisasi di 18 kelurahan di 3 kecamatan, warga di Lingkungan Kedungkwali, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan sukses budidaya lele di lahan sempit.
Plt. Camat Kranggan, Setiyo Budi Utomo, SE, MM mendorong perternakan ini bisa diterapkan setiap elemen masyarakat untuk mendukung ketahanan panggan.
Jumlah inovasi Kota Mojokerto sendiri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dari semula 27 inovasi pada tahun 2021, kini mencapai 259 inovasi pada 2026. Dari jumlah tersebut, 158 inovasi telah mencapai nilai kematangan 111, sedangkan 101 inovasi lainnya masih perlu diperkuat.
Menurut mas Camat, sapaan Setiyo Budi Utomo, budidaya lele di lahan terbatas menjadi contoh bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari lingkungan terkecil. Ia mendorong agar pola serupa bisa diterapkan masyarakat di wilayah Kecamatan Kranggan sesuai dengan potensi dan kondisi lingkungan masing-masing.
“Ketahanan pangan tidak harus dimulai dari lahan yang luas. Dengan kreativitas dan pemanfaatan lahan yang ada, masyarakat bisa menghasilkan pangan sendiri, seperti budidaya lele ini,” ujarnya.
Sutomo menilai langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Kota Mojokerto dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat. Menurutnya, peran pemerintah di tingkat kecamatan adalah mendorong, memfasilitasi, serta menggerakkan masyarakat agar program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Ia berharap budidaya lele maupun komoditas pangan lainnya dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hasil budidaya juga berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan apabila dikelola secara serius.
“Semangatnya sama dengan program yang didorong Wali Kota, yakni bagaimana masyarakat bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Kami di kecamatan tentu akan terus mendukung dan mendorong agar inovasi seperti ini berkembang,” katanya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Mojokerto memastikan program cabenisasi akan terus berlanjut hingga 2029 sebagai bagian dari dukungan terhadap Program Strategis Nasional di bidang ketahanan pangan.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menyediakan bahan pangan bagi masyarakat, tetapi juga menekan pengeluaran rumah tangga serta membantu mengendalikan inflasi daerah.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau Ning Ita sebelumnya menegaskan bahwa keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak boleh menjadi hambatan bagi masyarakat untuk ikut memperkuat ketahanan pangan. Penanaman cabai dapat dilakukan di pekarangan, teras rumah maupun menggunakan pot dan barang daur ulang, selama mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.
Dengan semakin banyaknya inovasi yang tumbuh dari masyarakat, peran kecamatan menjadi penting sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah daerah dengan kebutuhan warga di tingkat bawah. Budidaya lele di Kedungkwali menjadi salah satu contoh bahwa program ketahanan pangan dapat diterjemahkan dalam bentuk nyata dan dikembangkan dari lingkungan masyarakat sendiri. (Ud)








