
Jakarta, harianjatim.net – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk tengah membidik posisi sebagai bank dengan layanan finansial lengkap atau full banking services. Langkah ini dilakukan dengan memperluas jangkauan layanan di luar fokus utama mereka pada kredit pemilikan rumah (KPR).
Direktur Operations BTN I Nyoman Sugiri menyampaikan bahwa perseroan mulai bergerak menuju layanan di luar KPR pada hari Sabtu, 14 Maret 2026. Perseroan kini menawarkan layanan perbankan yang lebih komprehensif seperti payroll, kartu kredit, investasi, Kredit Ringan (KRING) untuk renovasi rumah, kredit multiguna, pembiayaan kendaraan bermotor, hingga kredit modal kerja.
“Kami akan mengubah image itu bahwa bank BTN bisa memberikan layanan full banking services. Artinya, kalau finansial keluarga itu ada pembiayaan, investasi, transaksi, dan segala macam kebutuhan perbankan lainnya. Apalagi di era digital sekarang ini,” kata Nyoman dalam keterangannya di Jakarta.
Dalam acara Talk Show & Anugerah Jurnalistik dan Foto BTN 2026, Nyoman menyebutkan bahwa transformasi ini merupakan bagian dari implementasi visi baru BTN untuk periode 2025-2029. Transformasi bisnis tersebut mencakup ekspansi efisien melalui pembaruan operasional kredit, modernisasi kantor cabang, serta pengembangan layanan digital.
Guna mencapai target tersebut, BTN memperkuat mesin pendanaan berkelanjutan (sustainable funding), meningkatkan proposisi produk dan cross selling, serta menghadirkan layanan perbankan lengkap. Nyoman juga menekankan pentingnya memperkuat aspek pendanaan agar bisnis dapat berjalan secara berkelanjutan di masa depan.
Hal tersebut dikarenakan pendanaan merupakan bahan bakar utama bagi perbankan dalam menjalankan aktivitas pembiayaan. Penguatan funding menjadi salah satu fokus utama yang terus diperbaiki untuk memastikan ketersediaan sumber pendanaan yang stabil agar BTN dapat terus menjalankan fungsi intermediasi.
“Karena itu, penguatan funding menjadi salah satu fokus utama yang terus diperbaiki. Upaya ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan sumber pendanaan yang stabil dan berkelanjutan. Sehingga BTN dapat terus menjalankan fungsi intermediasi dan memperluas penyaluran pembiayaan,” ujarnya.
Rencana BTN lainnya adalah menghadirkan layanan perbankan lengkap dengan mengutamakan pengalaman nasabah. Salah satu langkah konkretnya adalah melakukan revamp atau pembaruan proses pengelolaan kredit agar menjadi lebih efisien, cepat, dan terstandarisasi melalui sistem loan factory.
Sistem loan factory ini memusatkan proses pengajuan dan pengolahan kredit konsumer, termasuk KPR. Sebelumnya, operasional yang dilakukan melalui enam regional sering terkendala oleh standar proses yang belum seragam serta kontrol yang belum sepenuhnya terpusat secara nasional.
Melalui sistem baru ini, seluruh proses kredit kini disentralisasi di pusat untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu, BTN melakukan modernisasi jaringan kantor cabang dari konsep lama yang kaku menjadi lebih modern dan ramah terhadap nasabah melalui program rejuvenating branch.
Sepanjang tahun 2025, BTN tercatat telah membuka 20 kantor cabang baru, merelokasi 29 kantor cabang, serta menata ulang 10 kantor cabang lainnya. Langkah ini bertujuan menciptakan suasana perbankan yang lebih nyaman dan sesuai dengan perkembangan zaman yang dinamis.
“Kami ingin mengubah kesan lama bahwa kantor cabang bank itu kuno dan birokratis. Ke depan, cabang BTN akan menyesuaikan perkembangan zaman dengan konsep yang lebih modern dan dinamis,” ungkap Nyoman.
Perseroan juga terus mempercepat digitalisasi layanan melalui pengembangan BTN Digital Store yang kini hadir di pusat perbelanjaan dan kawasan komersial. Strategi ini memungkinkan bank hadir di tengah keramaian untuk melayani nasabah kapan saja melalui gerai digital tersebut.
“Kami hadir di area komersial, di mal dan pusat keramaian. Konsepnya adalah outlet yang bisa melayani kapan saja melalui digital store,” jelas Nyoman lebih lanjut mengenai aksesibilitas layanan.
Terakhir, transformasi operasional BTN juga menyentuh aspek pengelolaan dokumen kredit dengan membangun Records Center. Fasilitas pusat penyimpanan ini dirancang untuk meningkatkan keamanan data portofolio KPR BTN yang berjumlah sangat besar.
“Portofolio KPR BTN sangat besar sehingga tata kelola dokumen agunan harus dilakukan secara baik dan aman. Karena itu kami membangun records center dengan sistem yang lebih modern. Ruang penyimpanan tahan api, rayap, dan high secured. Penyimpanan dengan dossier box, bukan amplop,” pungkas Nyoman.(wan/an)








