“Politik Warungan”

Oleh: Soenarwoto
“DIANCUK, iki negara model opo. Pejabate kabeh bejat. Kabeh senengane korupsi, nyolong, maling. Ora ono sing bener ngurus negara,” kata seorang pemuda dengan nada tinggi saat masuk warung kopi tadi pagi.
Mendengar ocehan pemuda itu keruan seluruh penikmat kopi pagi di Warung Mbok Darmi tersenyum. Teman-temannya yang sudah duluan ngopi dan ngudut di warung malah tertawa ngakak. Mereka semua seakan sepakat bahwa negeri ini memang sedang tidak baik-baik saja. Dipenuhi pejabat korup.
“Ora mung Diancuk, asu celeng kabeh pejabat Indonesia, mulai teko kelurahan sampek istana. Sing dipikirno mung wetenge dewe. Rakyat modar kecekik harga sembako BBM langka ora dipikirne. Janji kampanye wae akan memakmurkan dan menyejahterakan rakyat,” timpal temannya.
Sesahutan kata pemuda itu tambah menghangatkan suasana warung kopi. “Jane iki negara Kethoprak, opo negara Ludruk. Pejabat tinggi kok dicekel bocah cilik. Wis ora due kemampuan, pencalonane yo jebule penuh rekayasa,” tambah pemuda pertama pelontar kritik.
Begitu arah pembicaraan tertuju pada Wapres Gibran Rakabuming Raka, orang-orang yang ada di warung terlihat tambah sumringah. Senang. “Politisi kita semuanya bobrok. Bersekongkol untuk Gibran. Benar-benar buruk wajah politik kita,” tambahnya.
Buahnya, tatanan pemerintahan kita jadi amburadul. Ini gara-gara “politik warungan”. Asal jual, asal dapat uang. Tanpa ada menejemen yang profesional dan mengesampingkan etika dan moral. “Hasilnya ya begini, tatanan negara kacau,” tandas pemuda itu dengan nada berapi-api seperti nara sumber di televisi.
Politik warungan? Mendengar ini saya tidak setuju. Maka saya pun angkat bicara. “Semua yang sampean katakan tadi saya sepakat, tapi maaf mas, kalau menyinggung “politik warungan” itu saya menolak. Kesannya mendiskreditkan warung. Sebab, tidak semua warung itu menejemennya asal-asalan, seperti warung di jaman dulu. Asal jualan, asal dapat uang. Kepuasan pembeli belakangan. Tak dipikirkan.
Sekarang, jelas saya, banyak warung kopi dikelola dengan menejemen yang profesional. Bukan asal bisa jualan. Mereka dengan sangat presisi dalam menyajikan menu, estetika suasana warungnya, dan table manner-nya atau tata cara melayani customer-nya. Malah lebih profesional dibanding negara yang dijabat oleh tenaga profesional.
“Sampean jangan melihat warungnya Mbok Darmi ini. Lihatlah warung-warung kopi yang dikelola oleh anak-anak muda sekarang, itu semua dikelola dengan menejemen yang profesional. Sekarang warung Mbok Darmi ini saja dikelola dengan profesional. Buktinya, sekarang pembeli dilarang ngutang,” canda saya.
Seketika pemuda yang hendak mendebat argumen saya itu langsung tertawa. Begitu pula Mbok Darmi yang tidak tahu jluntrung pembicaraan pembelinya juga tersenyum terkekeh-kekeh. “Pak Wot niku saget-saget mawon,” ucapnya singkat. (**)
Penulis adalah wartawan senior yang tinggal di Tulungagung.








